Sedangkan di Jerman, selama bekerja ya waktunya untuk bekerja. Terkadang malah, jika pekerjaan sudah selesai dalam tempo lima jam saja, maka ia akan pulang. Tanpa perlu menunggu jam kerja full 7 jam.
Tulisan ini akan mengangkat tentang Etos Kerja Orang Jerman. Mari disimak poin-poin pentingnya sehingga bisa kita terapkan dalam kehidupan karir kita.
1. Etos Kerja Pertama : Jam kerja = Jam untuk bekerja.
Rata-rata orang Jerman bekerja sebanyak 35 jam per minggu alias 7 jam dalam sehari. Dalam kultur kerja di negara tersebut, saat karyawan sedang bertugas, dia tidak boleh melakukan apapun selain pekerjaannya. Itu berarti tidak akan ada waktu buat gosip dengan rekannya, membuka Facebook dan media sosial lainnya. Apalagi nyempet-nyempetin belanja online.
Kebiasaan berlagak sibuk, padahal lagi mantau diskon di toko online, saat bos menghampiri, merupakan perilaku jelek dan tidak bisa diterima dalam dunia kerja Jerman.
Ketika sedang bekerja orang Jerman terkenal sangat fokus dan rajin. Mereka bisa datang dan pergi dari kantor sewaktu-waktu asalkan sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi, tak ada aturan ketat masuk jam 9 pulang jam 5. Mereka selalu berusaha fokus dan cekatan dalam bekerja, sehingga produktivitas yang tinggi bisa tercapai dalam waktu yang singkat.
2. Etos Kerja Kedua : Pola Komunikasi Langsung
Apalagi dalam acara resmi semacam serimoni di Jerman. Kita tidak akan mendapatkan telrlau banyak kata sambutan yang bertele-tele. 'Sambutan’ dari Pak ini dan Bu itu. Apalagi mata acara ‘Ramah Tamah’. Semua dilakukan langsung pada intinya, tanpa perlu adanya pencair suasana.
3. Etos Kerja Ketiga : Pisahkan Pekerjaan dari Kehidupan Pribadi dengan Seimbang
Karena fokus yang mereka curahkan bagi pekerjaan begitu intens dan mereka begitu produktif saat di kantor/ pabrik, selesai jam kantor mereka manfaatkan buat istirahat. Mereka tidak terlalu suka hang out atau ngopi-ngopi dulu bareng teman sekantor. Karena pada umumnya orang Jerman benar-benar menghargai batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesionalnya. Bahkan pemerintah Jerman berencana untuk melarang pengiriman email yang berhubungan dengan kerjaan setelah jam 6 sore, supaya pekerja di sana bisa beristirahat.
Bagi mereka, hari libur benar-benar dimanfaatkan untuk berlibur. Akhir pekan dimanfaatkan untuk bercengkrama dengan keluarga dan berbaur dengan masyarakat melalui komunitas minat khusus seperti klub musik, klub olahraga, klub pecinta binatang, klub hiking dan sebagainya. Bahkan di desa terkecil di Jerman terdapat beberapa klub, hingga mereka tidak akan melewati akhir pekan dengan malas-malasan di depan TV.
4. Etos Kerja Ke Empat : Libur itu Penting!
Dalam setahun, masyarakat Jerman menikmati ‘libur yang dimandatkan negara’ (mungkin sama dengan ‘cuti bersama’ atau ‘libur nasional’ kalau di Indonesia) yang banyak banget. Kalau ditotal, bisa mencapai 6 minggu dalam setahun. Bayangkan, kalau kita tidak harus pergi kerja selama 6 minggu sementara gaji tetap dibayar penuh.
Itu belum termasuk 25-30 hari jumlah cuti (padahal yang dianjurkan cuma 20 hari) yang boleh diambil dalam setahun, itu artinya jika bisa pandai-pandai mengatur jadwal liburan, mereka bisa traveling ke tempat jauh sekalian!
Lalu apa hubungannya liburan dengan produktivitas kerja? Selain liburan membuat seseorang menjadi lebih fresh saat kembali ke kantor, kita juga harus menggunakan kacamata orang Jerman dalam melihat liburan. Bagi mereka, liburan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Sedangkan kita hanya menganggap liburan sebagai bonus/hadiah dari pekerjaan.
5. Etos Kerja Ke-5 : Jarang Rapat
Kalau kultur kerja di Indonesia terbiasa dengan kebiasaan beramah-tamah, santai dan lebih banyak basa-basi demi menjalin keakraban, kultur kerja di Jerman menitikberatkan pada kualitas, bekerja secara individu, dan segera pulang setelah selesai pekerjaannya. Memang benar mereka lebih suka bekerja sendiri dan tertutup jika itu dipandang bagus buat diri dan kantornya. Seringkali mereka mengambil istirahat siang yang panjang agar bisa bekerja di luar kantor dan lebih fokus. Jadi, jangan heran melihat mereka jarang ngumpul buat rapat atau ngobrol soal kerjaan. Bagi mereka, less social time is more work time.
6. Etos Kerja Ke-6 : Tidak cemas bila kehilangan pekerjaan
Jika mereka berminggu-minggu libur dan cuti, apa mereka tidak takut kehilangan pekerjaan? Mau bayar tagihan pakai apa? Tenang, selain karena libur dan cuti tersebut dimandatkan oleh negara, orang Jerman tidak terlalu cemas jika mereka tidak punya pekerjaan. Itu karena pemerintah Jerman selalu berusaha membahagiakan rakyatnya dengan menyediakan layanan kesehatan gratis, biaya kuliah gratis, dan santunan kepada anak-anak kecil.
Orang Jerman bebas dari rasa cemas karena beberapa tagihan mereka udah ditanggung oleh pemerintah. Akibatnya mereka jadi jauh lebih bahagia, lebih produktif, dan seluruh waktunya dicurahkan untuk pekerjaan dan keluarga, bukan fokus buat memikirkan tunggakan bulanan.
7. Etos Kerja Ke-7 : Kualitas lebih penting daripada kuantitas
Kultur kerja yang diterapkan orang Jerman sekali lagi menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Saat kita membanggakan diri dengan jumlah jam kerja dan lembur yang kita lakukan buat kantor dan perusahaan, orang Jerman lebih mengutamakan kualitas dari hasil pekerjaan. Kualitas itu didapatkan dengan fokus, efisiensi dan dedikasi tanpa kompromi di tempat kerja.
Mereka memblokir semua gangguan dari luar dan dalam diri demi menyelesaikan kewajiban, lalu segera kembali ke keluarga dan komunitas untuk memelihara keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Lagipula, buat apa pamer sudah kerja lembur hingga 12 jam kalau sebagian besar pekerjaannya diisi oleh membuka Facebook, ngerumpi, serta berbasa-basi?
Terdengar luar biasa ya? Trus kita harus minder?
Tidak perlu sampe begitu Bro.. Kultur kerja Orang Jerman memang tidak bisa disamakan dengan di Indonesia. Walaupun demikian, ada beberapa contoh yang bisa kita ambil. Minimal untuk kita terapkan dalam kehidupan kita pribadi.
Keuletan dan usaha mereka menyeimbangkan antara ‘work’ dengan ‘play’ bisa kita tiru. Pola komunikasi langsung pada intinya bisa menghemat waktu, meningkatkan efisiensi, dan memperjelas percakapan antar rekan kerja. Menutup media sosial saat bekerja akan membantu fokus dan tidak mudah terdistraksi.
Lalu, nikmatilah akhir pekan kamu tanpa gangguan smartphone dan internet agar otak kamu lebih bugar saat kembali ke kantor nanti. Demikian tulisan positif mengenai Etos Kerja Orang Jerman. Semoga bermanfaat !
Sumber : Hipwee





0 komentar:
Posting Komentar