Kamis, 27 November 2014

Abdul Mukti Penjual BBM Kejujuran


Kejujuran tetaplah menjadi mata uang yang berharga di negeri ini. Hal utama yang menyebabkan ia berharga adalah karena ia masih termasuk barang langka. Segelintir orang yang mempu bertahan dalam mempertahankan kejujuran di tengah arus kehidupan yang semakin mementingkan diri sendiri seperti saat ini.

Adalah Abdul Mukti (56), duda beranak satu yang coba bertahan dengan semangat kejujuran ini. Di salah satu ruas jalan di Kediri, sudah lebih tiga tahun ia membuka kios minyak BBM kejujuran. Tepatnya di Jl Veteran Mojokerto Kediri. Apa itu artinya?

Rupanya dari kios yang ia dirikan sejak tahun 2011 tersebut, ia ingin memberikan semacam semangat kejujuran. Di rak mini tempat ia menata botol-botol BBM tersebut ia meletakkan tulisan : "Ambil Sendiri", "Bayar dengan uang pas dan masukkan ke dalam toples". Pembeli diwajibkan untuk melayani diri sendiri. Bukan karena penjualnya tidak mau direpotkan untuk mengisikan BBM, melainkan untuk melatih kejujuran dari pembeli.


Uniknya lagi, ia tidak mematok harga yang sama. Nominal angka yang ia jual mulai dari Rp2000 sampai Rp9000. 

Bagaimana awal kisah dari seorang Abdul Mukti membuka kios BBM kejujuran ini? Ia menuturkan, "Saya tetap bertahan dengan pola itu, meski ada saja orang yang tidak membayar atau bahkan mengambil uang di tempatnya," kata Pak Mukti tersenyum. 

Ia lalu bercerita, bahwa kios itu didirikan pada tahun 2011. Pak Mukti mengenang saat melihat ada pemotor kesulitan mencari bensin di tengah malam. Dari sana ia pun memulai membuat kios bensin 24 jam. Agar pembeli mudah, ia meletakkan toples tempat sebagai kas pembayaran.

Pak Mukti mengaku, 'kios mini' BBM Kejujurannya tersebut seringkali menjadi sasaran keusilan. Yang namanya membayar kurang, membayar dengan uang palsu hingga yang mengambil uang di toples, itu sudah biasa.

Pak Mukti tak menyerah. Ia tetap mempertahankan kiosnya. Meskipun kemudian BBM naik, ia malah berkreasi dengan membuat nominal harga menjadi lebih 'ringan' hingga Rp2000 untuk botol paling kecil. "Ini untuk menyesuaikan harga saja, khususnya anak sekolah," tutur pria beranak 3 ini sambil tersenyum tipis.







Pasalnya, Rumah Pak Mukti yang dijadikan toko oleh anaknya itu, berada di depan SMKN 2 Kediri. Sehingga wajar, jika kemudian Pak Mukti mempertimbangkan faktor harga dalam berinovasi.

Banyak dari kita mungkin bertanya, seberapa kaya Pak Mukti sehingga mau merugi bertahun-tahun? Padahal Pak Mukti bekerja sebagai penarik becak. Ia duda dan tinggal bersama anak yang membuka toko kelontong di rumah. Sehari-hari, selain menarik becak, pria lulusan SMA itu aktif berolahraga terutama beladiri.

Pak Mukti memang tak menghitung untung rugi. Juga tak berpikir tentang pencitraan. "Ini soal melayani sesama," kata Pak Mukti menjelaskan alasannya.

Ada yang ingin meniru jalan Pak Abdul Mukti ini berjualan BBM Kejujuran ini? (min)

Selasa, 18 November 2014

Breanna Youn Bocah Imut Seleb Instagram

Who is Breanna Youn

Boleh jadi kehidupan Breanna Youn adalah keajaiban. Bocah asal Korea Selatan tersebut yang baru berusia lima tahun tersebut, memang ajaib. Tidak seperti anak seusianya pada umumnya. Bukan boneka Shaun the Sheep, ataupun Masha and The Bear yang menjadi teman bermain. Tapi, ia memiliki barang mewah seperti tas dan perhiasan buatan desainer papan atas.

Breanna bersama dengan saudara serta kedua orangtuanya saat ini tinggal di hotel bintang lima di Dubai. Untuk keperluan bepergian pun, mereka menggunakan mobil limousin. 

Dan yang lebih mengagumkan, semua yang ia peroleh bukanlah berasal dari orangtuanya. Melainkan diberikan oleh para fansnya di seluruh dunia! Luar biasa..
Who is Breanna Youn

Siapakah Breanna Youn? Usut punya usut, Breanna Youn adalah salah satu selebritis sosial media. Mereka yang mendadak popular karena keberadaan sosial media. Bocah yang masih berusia lima tahun ini, mempunyai follower Instagram sekitar sejuta orang. Hampir menyamai jumlah follower yang dimiliki oleh Cameron Diaz.

Padahal, menurut penuturan orangtuanya, akun Instagram miliknya itu baru berusia tujuh bulan saja. Selain Instagram, akun sosial media miliknya seperti Facebook juga memiliki fans sebanyak 210 ribu dan layanan mikro-video, Vine dengan 305 ribu pengikut.

Sebenarnya apa yang membuat fans Breanna menjadi demikian tergila-gila? Sederhana sekali. Breanna biasa memposting foto-foto narsisnya dalam berbagai ekspresi dan pose. Mungkin wajahnya memang menggemaskan, sehingga jutaan orang mkenyukainya. Yang bikin merinding bahkan, sejumlah fansnya mengaku lebih mencintai Breanna daripada anaknya sendiri. Alamak..

Jangankan anda, ibunya sendiri pun heran, kenapa orang-orang itu begitu menyukai wajah imut anaknya. LIhat saja foto-fotonya berikut ini :






Siapakah Breanna Youn? Ia adalah balita keturunan Filipina - Korea Selatan. Sebelumnya, mereka tinggal di apartemen kedil di daerah Busan, Korea Selatan. Sampai nasib baik berpihak kepada mereka, saat seorang fans menawari mereka untuk tinggal di Dubai sekitar bulan Mei 2014 lalu. 

Asal tahu saja, Breanna ternyata mempunyai banyak fans yang berasal dari Arab Saudi. Dan dengan kekayaan yang dimiliki, mereka tak segan-segan untuk membiayai hidup Breanna dan keluarganya itu. 

Ini yang disebut anak bertuah. Beruntung. Ada-ada saja.. (+ID)

Senin, 17 November 2014

Etos Kerja Orang Jerman dan Pentingnya Liburan

Positive ID

Etos Kerja Orang Jerman -- Jam kerja di Indonesia adalah delapan jam. Satu jam lebih lama dibanding jam kerja orang Jerman yang sekitar 7 jam. Namun dilihat dari kualitasnya, walaupun jam kerja orang Indonesia lebih lama, di dalamnya mereka masih bisa mengisinya dengan membaca status Facebook, Twitter-an, browsing, kongkow-kongkow makan siang.

Sedangkan di Jerman, selama bekerja ya waktunya untuk bekerja. Terkadang malah, jika pekerjaan sudah selesai dalam tempo lima jam saja, maka ia akan pulang. Tanpa perlu menunggu jam kerja full 7 jam.

Tulisan ini akan mengangkat tentang Etos Kerja Orang Jerman. Mari disimak poin-poin pentingnya sehingga bisa kita terapkan dalam kehidupan karir kita. 

1. Etos Kerja Pertama : Jam kerja = Jam untuk bekerja. 

Rata-rata orang Jerman bekerja sebanyak 35 jam per minggu alias 7 jam dalam sehari. Dalam kultur kerja di negara tersebut, saat karyawan sedang bertugas, dia tidak boleh melakukan apapun selain pekerjaannya. Itu berarti tidak akan ada waktu buat gosip dengan rekannya, membuka Facebook dan media sosial lainnya. Apalagi nyempet-nyempetin belanja online.

Kebiasaan berlagak sibuk, padahal lagi mantau diskon di toko online, saat bos menghampiri, merupakan perilaku jelek dan tidak bisa diterima dalam dunia kerja Jerman.

Ketika sedang bekerja orang Jerman terkenal sangat fokus dan rajin. Mereka bisa datang dan pergi dari kantor sewaktu-waktu asalkan sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi, tak ada aturan ketat masuk jam 9 pulang jam 5. Mereka selalu berusaha fokus dan cekatan dalam bekerja, sehingga produktivitas yang tinggi bisa tercapai dalam waktu yang singkat.

2. Etos Kerja Kedua : Pola Komunikasi Langsung

Positive ID

Budaya kita memang suka berbasa-basi. Mungkin itulah negara kita dikenal ramah. Namun bagi orang Jerman, tetap bisa komunikatif walaupun tanpa banyak basa-basi. Karyawan di Jerman akan bicara langsung kepada atasannya mengenai laporan yang ia buat. Bawahan juga tidak segan untuk menanyakan kenapa performa kerjanya dianggap menurun. Atasan mereka juga lebih suka menggunakan perintah langsung seperti “Saya butuh kerjaan kamu jam 3 sore ini” daripada “Tidak usah buru-buru. Tapi kalau bisa selesai jam 3 ya..”

Apalagi dalam acara resmi semacam serimoni di Jerman. Kita tidak akan mendapatkan telrlau banyak kata sambutan yang bertele-tele. 'Sambutan’ dari Pak ini dan Bu itu. Apalagi mata acara ‘Ramah Tamah’. Semua dilakukan langsung pada intinya, tanpa perlu adanya pencair suasana.

3. Etos Kerja Ketiga : Pisahkan Pekerjaan dari Kehidupan Pribadi dengan Seimbang

Karena fokus yang mereka curahkan bagi pekerjaan begitu intens dan mereka begitu produktif saat di kantor/ pabrik, selesai jam kantor mereka manfaatkan buat istirahat. Mereka tidak terlalu suka hang out atau ngopi-ngopi dulu bareng teman sekantor. Karena pada umumnya orang Jerman benar-benar menghargai batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesionalnya. Bahkan pemerintah Jerman berencana untuk melarang pengiriman email yang berhubungan dengan kerjaan setelah jam 6 sore, supaya pekerja di sana bisa beristirahat.

Bagi mereka, hari libur benar-benar dimanfaatkan untuk berlibur. Akhir pekan dimanfaatkan untuk bercengkrama dengan keluarga dan berbaur dengan masyarakat melalui komunitas minat khusus seperti klub musik, klub olahraga, klub pecinta binatang, klub hiking dan sebagainya. Bahkan di desa terkecil di Jerman terdapat beberapa klub, hingga mereka tidak akan melewati akhir pekan dengan malas-malasan di depan TV.

4. Etos Kerja Ke Empat : Libur itu Penting! 

Dalam setahun, masyarakat Jerman menikmati ‘libur yang dimandatkan negara’ (mungkin sama dengan ‘cuti bersama’ atau ‘libur nasional’ kalau di Indonesia) yang banyak banget. Kalau ditotal, bisa mencapai 6 minggu dalam setahun. Bayangkan, kalau kita tidak harus pergi kerja selama 6 minggu sementara gaji tetap dibayar penuh.

Itu belum termasuk 25-30 hari jumlah cuti (padahal yang dianjurkan cuma 20 hari) yang boleh diambil dalam setahun, itu artinya jika bisa pandai-pandai mengatur jadwal liburan, mereka bisa traveling ke tempat jauh sekalian!

Lalu apa hubungannya liburan dengan produktivitas kerja? Selain liburan membuat seseorang menjadi lebih fresh saat kembali ke kantor, kita juga harus menggunakan kacamata orang Jerman dalam melihat liburan. Bagi mereka, liburan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Sedangkan kita hanya menganggap liburan sebagai bonus/hadiah dari pekerjaan.

5. Etos Kerja Ke-5 : Jarang Rapat 

Kalau kultur kerja di Indonesia terbiasa dengan kebiasaan beramah-tamah, santai dan lebih banyak basa-basi demi menjalin keakraban, kultur kerja di Jerman menitikberatkan pada kualitas, bekerja secara individu, dan segera pulang setelah selesai pekerjaannya. Memang benar mereka lebih suka bekerja sendiri dan tertutup jika itu dipandang bagus buat diri dan kantornya. Seringkali mereka mengambil istirahat siang yang panjang agar bisa bekerja di luar kantor dan lebih fokus. Jadi, jangan heran melihat mereka jarang ngumpul buat rapat atau ngobrol soal kerjaan. Bagi mereka, less social time is more work time.

6. Etos Kerja Ke-6 : Tidak cemas bila kehilangan pekerjaan


Positif ID

Jika mereka berminggu-minggu libur dan cuti, apa mereka tidak takut kehilangan pekerjaan? Mau bayar tagihan pakai apa? Tenang, selain karena libur dan cuti tersebut dimandatkan oleh negara, orang Jerman tidak terlalu cemas jika mereka tidak punya pekerjaan. Itu karena pemerintah Jerman selalu berusaha membahagiakan rakyatnya dengan menyediakan layanan kesehatan gratis, biaya kuliah gratis, dan santunan kepada anak-anak kecil.

Orang Jerman bebas dari rasa cemas karena beberapa tagihan mereka udah ditanggung oleh pemerintah. Akibatnya mereka jadi jauh lebih bahagia, lebih produktif, dan seluruh waktunya dicurahkan untuk pekerjaan dan keluarga, bukan fokus buat memikirkan tunggakan bulanan.

7. Etos Kerja Ke-7 : Kualitas lebih penting daripada kuantitas

Kultur kerja yang diterapkan orang Jerman sekali lagi menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Saat kita membanggakan diri dengan jumlah jam kerja dan lembur yang kita lakukan buat kantor dan perusahaan, orang Jerman lebih mengutamakan kualitas dari hasil pekerjaan. Kualitas itu didapatkan dengan fokus, efisiensi dan dedikasi tanpa kompromi di tempat kerja.

Mereka memblokir semua gangguan dari luar dan dalam diri demi menyelesaikan kewajiban, lalu segera kembali ke keluarga dan komunitas untuk memelihara keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Lagipula, buat apa pamer sudah kerja lembur hingga 12 jam kalau sebagian besar pekerjaannya diisi oleh membuka Facebook, ngerumpi, serta berbasa-basi?

Terdengar luar biasa ya? Trus kita harus minder?

Tidak perlu sampe begitu Bro.. Kultur kerja Orang Jerman memang tidak bisa disamakan dengan di Indonesia. Walaupun demikian, ada beberapa contoh yang bisa kita ambil. Minimal untuk kita terapkan dalam kehidupan kita pribadi.

Positif ID

Keuletan dan usaha mereka menyeimbangkan antara ‘work’ dengan ‘play’ bisa kita tiru. Pola komunikasi langsung pada intinya bisa menghemat waktu, meningkatkan efisiensi, dan memperjelas percakapan antar rekan kerja. Menutup media sosial saat bekerja akan membantu fokus dan tidak mudah terdistraksi.

Lalu, nikmatilah akhir pekan kamu tanpa gangguan smartphone dan internet agar otak kamu lebih bugar saat kembali ke kantor nanti. Demikian tulisan positif mengenai Etos Kerja Orang Jerman. Semoga bermanfaat !

Sumber : Hipwee

Jumat, 14 November 2014

Petugas KA Obati Luka Penumpang



Berbuat kebaikan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Beruntunglah mereka yang dapat dengan spontan berbuat kebaikan, meskipun bentuknya kecil tapi sepele.

Namun, spontanitas yang terjadi akan menjadi tolak ukur kita dalam memandang dunia. Terutama dalam hal keikhlasan dan pengabdian.

Sikap ini ditunjukkan oleh seorang petugas KAI bernama Supriatna, yang mengobati kaki penumpang wanita Kereta Api jurusan Tanah Abang – Serpong yang terluka. Foto tersebut diambil oleh Priska Devina Handoko, pada 9 November 2014.

Saat itu, melihat seorang ibu yang sepertinya tengah meringis, sang petugas datang menghampiri dan bertanya “Kenapa, Bu…?”. Ibu tersebut baru saja mau masuk ke kereta api di peron khusus perempuan.

“Saya jatuh tadi,” jawab si ibu.

Dengan sigap diambilnya botol obat luka Betadine ukuran kecil dari kantong putih dekat pentungannya. Kemudian, dengan tak disangka, ia membungkuk,  lalu jongkok untuk mengobati luka di kaki penumpang yang baru masuk kereta tersebut.

Foto yang kemudian tersebar ke dunia maya tersebut menuai pujian dari para netizen. Bahwa masih banyak hati mulia yang berani bersikap simpatik di tengah kelelahan dalam menunaikan kewajibannya. (min)



Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Life Positively!. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top